CERPENUNG – CERITA PENDEK BERSAMBUNG (BAGIAN 1)

Prolog : Cerita ini berdasarkan atas fakta dan tidak ada rekayasa, jika ada kesamaan tokoh, lokasi & kejadian, hal itu memang bener ada terjadi, bukan dari rekayasa keluarga besar “Tak ada akar Raam Punjabi.”

Cerita pertama

Hari minggu lalu saat saya berangkat ke gereja ada hal yang sangat bikin saya kaget bukan kepalang, apa itu? Ketemu “malaikat” cantik? Sayangnya bukan. Rekening bertambah 12 digit? Ah kalo itu juga bukan. Saat diperjalanan ke gereja, sekitar 3 kilometer dari gereja mata saya tiba-tiba menangkap sosok yang tak asing lagi. Ternyata dia tukang bubur kacang ijo langganan saya. Ya saya memang biasa sarapan bubur sebelum ibadah, karena biasanya saya sampai setengah jam sebelum ibadah jadi msh ada waktu untuk bikin kenyang cacing-cacing di perut saya. Sesampainya di gereja saya kearah atm untuk membayar perpuluhan, setelah itu mencari tukang koran untuk beli Kompas. Kira-kira 20 menit setelah saya sampai di gereja akhirnya datanglah si abang tukang bubur. Sambil tersenyum saya bilang “kang, biasa, hiji didieu”. Saya pun nanya ke dia “tadi dari mana kang? Saya lihat dari bawah”. Terus jawabnya “Oh saya memang biasa dari sana dulu mas jualan, habis itu baru kearah sini”. Saya dalam hati “Wah hebat juga ya orang ini, dorong gerobak 3 kilo jalannya nanjak lagi”. Saya pribadi kalau disuruh jalan kaki 3 km pasti mikir-mikir, apalagi ditambah dorong gerobak yang berat. Oya jarak 3 km itu klo di Bandung, kira-kira dari BIP ke Simpang Dago atau kalau di Jakarta dari Semanggi ke Senci kali ya.

Lalu saya menghabiskan bubur sambil baca sekilas Kompas hari itu. Akhirnya cacing-cacing diperut saya pun berhenti melakukan kudeta. Lalu saya pun membayar sembari mengucapkan “hatur nuhun kang”. Belum dua langkah saya berbalik badan kearah gereja, si abang bubur memanggil saya “mas ini duitnya kelebihan seribu”. Oh, saya lupa, karena terbiasa menyediakan 4 lembar duit pecahan seribu untuk beli Kompas (harga eceran Rp 3500) maka saya pun membayar bubur (yang harganya Rp 3000) dengan jumlah duit yang sama. Saya berjalan kearah gereja sambil berpikir “Ternyata masih ada orang jujur, mungkin dia tidak pernah membayangkan dapat duit Rp 100 miliar seperti yang dimiliki oleh Gayus Tambunan, tapi bagi dia duit Rp 1000 pun tidak bisa membeli karakter dan integritas dia”. “Shalom” Seorang Bapak menyambut saya hangat di depan gereja. Loh, udah sampai gereja toh, ah saya sampai lupa berterimakasih ke dia atas kejujurannya.

“Integrity is doing the right thing, even if nobody is watching.” – Anonymous

Cerita kedua

Kisah ini terjadi sekitar 2 bulan yang lalu. Malam itu saya ada di kamar sedang mengecek email. Karena saya ingat belum makan malam, akhirnya saya mencari piring untuk makan malam. Ketika kembali kekamar saya melihat bungkus makanan saya terbuka dan daging ayam serta ikan teri saya berceceran di lantai dan ternyata ada tersangka seekor kucing didekat situ. Aaaarrrggghhhhh !@#$%^&*()_+ makan malam saya digondol kucing!! Kurang Ajarrrrrrr!! Saya pun berlari mengejar si kucing sembari berharap kalau ditangkap kucing ini akan saya jadikan sate kucing! Tapi sayangnya saya gagal menangkap Felix The Cat yang satu ini, dia terlalu lincah dan gesit dibandingkan saya yang lamban karena sudah jarang berolahraga. Akhirnya saya terdiam lalu membersihkan bekas makanan yang tercecer dilantai serta membuang sisa nasi dan lauk pauknya ke tempat sampah. Kesal sekali rasanya. “Ah malam ini tampaknya saya memperkaya keluarga Salim atau Katuari lagi nih” pikir saya. Semua gara-gara kucing pencuri itu.

Eh tunggu, gara-gara kucing? Lho, bukankah saya sendiri yang membiarkan pintu kamar saya terbuka sehingga kucing bisa menerobos masuk? Bukannya kalau saya menutup pintu kamar saat mencari piring kucing tidak bisa masuk kekamar saya? Jadi salah saya dong sebenarnya? Saya pun tersenyum-senyum sendiri. Saya ini manusiawi sekali, dengan mudahnya menunjuk pihak lain sebagai penyebab kesalahan saya. Padahal jelas sekali, yang buat kesalahan itu saya, bukan si kucing. Entah kenapa saat terdesak jarang ada manusia yang berani bertanggung jawab atas perbuatannya apalagi atas perbuatan orang lain.Karena mencari kambing hitam itu sangat enak, seolah-olah penyebab kesalahan si kambing hitam itu dan kita pun seolah-olah suci dari “dosa”.

Saya memohon maaf atas kesalahan anak buah saya, ini tanggung jawab saya sepenuhnya ujar seorang manajer.
Saya mengundurkan diri karena gagal melindungi dan melayani masyarakat ujar seorang polisi.
Saya gagal menjalankan janji-janji saya kepada rakyat karena itu saya mundur dari posisi ini ujar seorang politikus.
Saya bertanggung jawab atas keteledoran mahasiswa saya ujar seorang dosen.
Saya bertanggung jawab atas kenakalan anak saya ujar seorang ayah.
Saya bertanggung jawab atas kesalahan saya sepenuhnya dan menerima segala konsekuensi atas kesalahan saya ujar seorang anak manusia.


“If you blame others for your failures, do you credit them with your success?” – Anonymous

Epilog : Untuk setiap adegan pada cerita diatas tidak ada binatang atau hewan peliharaan yang disiksa, tidak ada gender bias, motif politik atau bocoran intelijen ala wikileaks dan bebas SARA.

Bersambung ke CERPENUNG BAGIAN 2

Warren Harding Error

Salam Sejahtera

How Silly! There will never be a worse President than Warren G Harding (Anonymous)

Saya terinspirasi untuk menulis note ini sehabis membaca ulang karya Malcolm Gladwell yang berjudul Blink. Inti dari buku Blink adalah tentang kesan pertama atau bahasa kerennya snap judgment/thin slicing. Kita bisa menemukan contoh-contoh kehebatan kesan pertama seperti bagaimana pakar benda seni bisa mengenali patung palsu dalam sekali lihat, seorang pelatih tenis yang bisa tau bahwa seorang petenis melakukan double fault saat dia bahkan belum memukul bola tenis dengan raketnya atau bagaimana seorang ahli makanan yang bisa tau keripik mana yang berasal dari pabrik mana dan gelas mana yang berisi Pepsi atau Coca-Cola. Selain contoh-contoh bagaimana kehebatan dari snap judgment/thin slicing buku tersebut juga menjelaskan betapa berbahayanya membuat sebuah kesimpulan cepat dari kesan pertama seperti pemasar bisa memanipulasi kesan pertama konsumen, polisi yang bisa menembak mati orang yang bersalah (kisah nyata di Bronx, New York City pada 3 Februari tahun 1999) atau peserta pemilu bisa saja memilih calon presiden yang tampan namun tidak mampu bekerja (kesalahan rakyat Amerika dalam memilih Warren G Harding sebagai Presiden). Ya hal terakhir itulah yang dibahas secara spesifik pada salah satu bab Blink.

Sebelumnya perhatikan dua gambar orang berikut ini.


orang kulit putih


 orang kulit hitam

Gambar diatas adalah salah satu investor saya yang berasal dari Inggris. Dia bernama James Keegan lulusan dari sekolah bisnis INSEAD di Perancis. James memiliki istri dari Perancis dan mempunyai seorang putri. Dia tertarik dengan konsep Social Entrepreneurship dari Muhammad Yunus sehingga mau berinvestasi kepada saya.

Gambar diatas adalah salah seorang anggota dari jaringan narkoba internasional. Seperti diberitakan Harian StraitsTimes Singapura, pria yang bernama Wardela Ksweba ini tertangkap tangan membawa paket heroin seberat 3 Kg saat pesawat yang membawanya dari Nigeria transit di Bandara Changi Singapura sebelum menuju Bandara Soekarno-Hatta Indonesia.

Menurut anda yang manakah dari kedua foto orang itu yang merupakan foto investor saya ?

Apakah yang menurut anda bahwa orang berkulit hitam yang diambil fotonya didalam pesawat adalah Wardela Ksweba?

Saya menduga-duga pasti pikiran yang ada dikepala anda seperti ini “Ah ini pertanyaan jebakan dari si Jufri, pasti dia ingin saya mengira bahwa investor dia adalah si bule yang berjas itu dan anggota jaringan narkoba itu pasti si pria kulit hitam yang difoto didalam pesawat, berarti investor si Jufri adalah si pria kulit hitam dan si bule itu adalah anggota jaringan narkoba internasional!”

Kalau yang ada di pikiran anda seperti itu maka anda keliru.

Berarti kalau begitu investornya si bule itu dan anggota jaringan narkoba adalah si pria kulit hitam, begitu?

Sayang sekali itu juga keliru.

Sesungguhnya investor saya bukanlah si bule atau si pria kulit hitam yang ada di foto diatas begitu juga tidak ada satupun dari kedua orang itu yang termasuk jaringan narkoba internasional.

Foto pria berkulit putih yang mengenakan jas itu adalah Jerome Kerviel, seorang trader asal Perancis yang membobol perusahaan tempat dia bekerja yaitu Societe Generale, salah satu Bank terbesar di Perancis. Dia melakukan transaksi illegal sebesar 50 miliar Euro dan menyebabkan SocGen menderita kerugian hampir 5 miliar Euro (atau hampir Rp 65 Triliun!). Sedangkan pria berkulit hitam yang diambil fotonya didalam pesawat bernama William Kamkwamba. Dia bukan berasal dari Nigeria tapi dari Malawi. Pemuda yang telah menginspirasi jutaan orang melalui videonya di TED ini berhasil menciptakan pembangkit listrik bertenaga angin dari barang-barang rongsokan (yang dia pelajari dari sebuah buku yang bahasanya pun dia tidak mengerti) untuk menghidupi rumahnya di Malawi. Dan karyanya tersebut lalu menyebar ke rumah-rumah lain ke tetangga sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan listrik dari desa dia berada.

Berbeda sekali bukan?

Seandainya paragraf terakhir tidak saya beritahu mungkin anda yang membaca ini langsung meyakini bahwa pria berkulit putih yang berjas itu adalah investor saya dan pria berkulit hitam itu adalah anggota jaringan narkoba internasional. Anda mungkin bisa berkelit tapi alam bawah sadar anda tidak. Saya memanipulasi alam bawah sadar anda dengan mengasosiasikan kata-kata seperti “sekolah bisnis”, “investor”, “Inggris”, “Perancis” dengan foto orang berkulit putih dengan jas. Sebaliknya kata-kata “jaringan narkoba”, “heroin”, “pesawat”, “Nigeria” dengan pria berkulit hitam yang difoto didalam pesawat.

Lalu apakah ini prasangka yang disengaja, bahwa kita mengasosiasikan “hal-hal baik” dengan kulit putih dan “hal-hal buruk” dengan kulit hitam? Tentu saja tidak. Kita secara tidak sadar melakukan hal tersebut. Karena alam bawah sadar kita “dibentuk” oleh berbagai macam informasi semacam “jaringan narkoba dari Nigeria tertangkap di Bandara dengan modus baru menelan pil berisikan narkoba” dan sebagainya. Padahal tidak semua pria berkulit hitam adalah anggota jaringan narkoba. Kita telah melakukan kesalahan yaitu Warren Harding Error.

Rakyat Negeri Paman Sam pun pernah melakukan kesalahan fatal dalam memilih pemimpin mereka. Pada tahun 1921 seorang pria bertinggi besar dan gagah bernama Warren Gamaliel Harding terpilih menjadi Presiden AS ke 29. Pria ini terkenal dengan kesantunannya, sepatunya selalu bersih, ramah, rambutnya selalu tersisir rapi dan tubuhnya yang tegap (mengingatkan saya akan siapa ya?). Dari penampilan Warren Harding memang disukai banyak orang, tidak ada suatu cacat dari penampilan luarnya dan berkat pencitraan itu pula dia memenangkan hati sebagian besar rakyat AS saat itu yang memilihnya jadi Presiden ke 29. Tapi apakah dia seorang Presiden yang mampu bekerja dengan baik? Ternyata tidak. Warren G Harding adalah seorang peragu dan plin-plan dalam hal-hal yang menyangkut kebijakan dan pidato-pidatonya adalah “serangkaian ungkapan kosong yang baru tahap mencari gagasan” (lagi-lagi mengingatkan saya kepada seseorang?). Warren G Harding hanya sempat memimpin AS selama 2,5 tahun sebelum meninggal karena stroke. Dalam berbagai hasil survey sampai sekarang Warren G Harding adalah salah seorang Presiden AS yang kinerjanya terburuk yang pernah dipunyai oleh Negeri Paman Sam itu.

Saya akan menceritakan salah satu pengalaman Warren Harding Error yang saya alami. Beberapa waktu yang lalu saya menumpang sebuah mobil sewaan dari Cianjur menuju Bandung. Mobil ini disewa oleh teman saya dari Cianjur untuk ke Bandung dan kembali ke Cianjur dalam satu hari PP (Pulang-Pergi). Saya udah memasang tekad dari awal, kalau sopir sewaan (biasanya mobil sewaan sepaket dengan sopirnya) menyetir mobilnya secara ugal-ugalan maka saya yang akan menggantikan dia menyetir Cianjur-Bandung PP. Saya trauma karena beberapa waktu sebelumnya saya pernah dibawa sopir tempat saya bekerja dari Cianjur sampai Jakarta yang menyetir ala Schummy, mungkin dia mengira Jalan Tol Jagorawi adalah trek sirkuit Silverstone di Inggris yang harus dilahap secepatnya. Ok mobil telah datang lengkap beserta sopirnya. Hmmm. Sekilas saya lihat penampilan sopirnya. Wajahnya keras , kulitnya hitam, dan matanya merah namun tidak tercium bau alcohol dari mulutnya. Ya Tuhan jikalau dia tidak mau digantikan oleh saya, maka saya harus berdoa secara serius agar mobil dan rombongan bisa tiba dengan selamat di Bandung dan kembali ke Cianjur dengan selamat juga. Malaikat sepertinya harus bekerja keras menjaga kanan kiri depan belakang mobil sepanjang jalan. Akan tetapi apa yang saya alami? Ternyata si sopir ini menyetir dengan AMAN sekali, lebih aman dari cara saya menyetir malah. Dia selalu menjaga jarak dengan kendaraan didepannya. Jika kendaraan didepan mengerem, maka dari jauh dia sudah mulai mengerem. Jika dia mau menyalip maka dia akan klakson dulu kendaraan didepannya sembari menyalakan lampu sein. Jika kendaraan didepan berhenti mendadak maka dia menyalakan tombol lampu hazard sebagai tanda bahaya bagi kendaraan dibelakang. Wah saya telah melakukan kesalahan, saya mengasosiasikan pria berkulit gelap, bertampang keras dan bermata merah dengan seorang sopir yang mengendarai kendaraan secara ugal-ugalan seperti yang sering saya temui di Jakarta, padahal tidak semuanya seperti itu. Saya melakukan kesalahan, ya Warren Harding Error.

Lalu bagaimanakah cara supaya kita menghilangkan Warren Harding Error ini? Menurut Malcolm Gladwell, Warren Harding Error tidak bisa dihilangkan tapi bisa diubah. Kesan pertama kita dibangkitkan oleh pengalaman-pengalaman dan lingkungan kita. Gladwell menyarankan supaya kita berinteraksi dengan orang yang tidak sama dengan kita (baik itu agama, suku, ras, latar belakang pendidikan, kelas social dan sebagainya) atau yang kesan pertama dalam diri kita buruk. Sebagai contoh seperti ini : Menjelang Final Piala AFF Indonesia vs Malaysia pasti banyak gesekan antara orang Indonesia dan Malaysia. Saya pribadi tidak menganggap orang Malaysia itu musuh saya, karena saya punya kawan (bukan hanya satu dua tapi beberapa) orang Malaysia yang sangat menghargai Indonesia dan mencintai Indonesia sebagaimana mereka mencintai Malaysia. Makanya mustahil bagi saya seandainya Malaysia jadi Juara AFF mengalahkan Indonesia lalu saya melakukan sweeping orang Malaysia lalu langsung memukuli mereka. Itu sebuah tindakan konyol dan tidak masuk akal bagi saya. Tapi mungkin itu tindakan yang sangat masuk akal apabila selama hidup saya tidak pernah mengenal orang Malaysia secara pribadi jadi tidak tahu orang Malaysia itu seperti apa layaknya katak dalam tempurung.

Jadi marilah perbanyaklah interaksi dengan orang yang sama sekali berbeda dengan anda tapi tetap pertahankan nilai-nilai yang anda yakini pribadi.

Don’t judge a book by it’s cover! (Anonymous)

Anda punya pengalaman Warren Harding Error?


Warren G Harding

Bagaimana Dengan Mereka

Oh Betapa Indahnya Hidup Kita Jalani

Tiada Waktu Terlewat Tanpa Bahagia

Mari Lihat Keluar Terkadang Kita Lupa

Kita Tak Sendiri Menikmati Indahnya

Hidup Yang Di Berikan Oleh Sang Pencipta

Bagaimana Dengan Mereka

Yang Menjerit Karena Lapar

Yang Hidup Dari Belas Kasihan Orang Seperti Kita

Bagaimana Dengan Mereka Yang Tak Punya Apa Apa

Apa Yang Telah Kita Buat

Karena Kita Diciptakan Tuk Berbagi Hidup Dengan Mereka

Lirik dan Musik oleh One Way

http://www.4shared.com/audio/lJmTK1-u/19_BAGAIMANA_DENGAN_MEREKA.html

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Salam Sejahtera

Education is the most powerful weapon which you can use to change the world. (Nelson Mandela)

Penyesalan selalu datang terlambat, itu kata-kata yang terngiang-ngiang di kepala saya saat saya “terkaget-kaget” membaca buku Peter F Drucker yang berjudul Innovation and Entrepreneurship. Kenapa bisa begitu? Apakah ada hal spektakuler di buku itu yang membuat saya sampai “terkaget-kaget”? Sejujurnya bukan karena isi dari buku tersebut yang membuat saya seperti itu tapi karena saat saya sampai pada bagian The Do’s and The Dont’s pada bab 11. Principles of Innovation, saya tiba-tiba teringat akan salah satu mata kuliah yang saya ambil yaitu Manajemen Inovasi yang diajarkan oleh Prof I Gede Raka.  Saya ingat betul di salah satu slide mata kuliah beliau yang biasa disingkat Maninov juga ada bagian itu, hanya saja saya hanya sekadar menghapalkannya dan tentu saja sesuatu yang biasanya hanya dihapalkan tapi tidak dipahami akan berlalu begitu saja (mengutip kata-kata pembimbing saya Pak Faisal).  Hasilnya bisa ditebak, kurang dari 2 tahun setelah lulus saya hanya bisa mengingat judulnya yaitu The Do’s and The Dont’s tanpa tau apa esensi dari apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam hal inovasi.  Ya Tuhan apa yang saya lakukan selama kuliah sampai saya menyadari hal seperti ini?

Kalau saja Surya Paloh bukan membuat Nasional Demokrat tapi Golongan Bebal untuk menandingi Golongan Karya, maka jelas saya adalah orang pertama yang akan daftar . Ya saya ini termasuk golongan orang yang bebal, entah apa yang ada dikepala saya saat kuliah selama 4,5 tahun di kampus gajah duduk, bukannya belajar menjadi mahasiswa sebenar-benarnya minimal dalam artian seperti yang di sampaikan Pak Kusmayanto pada saat penerimaan mahasiswa baru, yaitu bukan hanya lulus tepat waktu (dengan IPK 3) tapi juga mempunyai teman 1000 orang, maka jelas saya gagal menjadi mahasiswa versi Pak Kus, sudah lulus 4,5 tahun dengan IPK 2,75, teman yang saya kenal pun hanya sekitar 600an orang yang setengahnya saja saya kenal di jurusan saya sendiri. Mungkin hasil penelitian Carol Dweck yang dikutip Malcolm Gladwell tentang penelitian bahwa anak-anak yang dipuja-puji karena cerdas cenderung mempunyai kemungkinan menjadi malas dan berbohong lebih tinggi daripada anak-anak yang dipuji karena kerja keras harus diumumkan saat penerimaan mahasiswa baru. Tentu saja spanduk “ Selamat datang Putra-Putri terbaik Bangsa” (yang sempat membuat saya tersenyum-senyum saat ayah saya berkata “jadi yang terbaik yang dimana nih? yang di Bandung ato yang di Depok? karena beliau juga melihat spanduk yang kata-katanya sama persis di “Kampus Depok”) harus diturunkan dan diganti kata-katanya menjadi “Selamat datang Tunas-tunas Merah Putih, Pahlawan-pahlawan yang bekerja keras untuk Bangsa”.  Mungkin karena itulah saya terbuai dengan predikat “Putra terbaik bangsa” atau bersekolah di “Institut Terbaik Bangsa” yang membuat saya terlena dan melupakan bahwa saya dulu pernah belajar dengan keras untuk masuk ke kampus Gajah duduk ini. Mungkin juga seharusnya saya diingatkan lebih awal bahwa para Profesor yang mengajar saya “hanya” digaji sekitar Rp 5 juta /bulan (bandingkan dengan cecunguk macam Gayus yang sudah di remunerasi menjadi Rp 12 juta/bulan masih saja mengkorupsi duit negara sebesar Rp 100 Miliar yang seharusnya masuk lewat pajak).  Mungkin seharusnya saat penerimaan mahasiswa baru saya diberitahu bahwa selama saya berkuliah, saya disubsidi oleh rakyat bangsa ini sebesar Rp 12,5 juta/bulan. Mungkin juga statistik yang mengatakan bahwa saya “mengalahkan” 300 siswa/i SMA untuk memperebutkan 1 kursi di TI ITB bukan untuk membuat saya besar kepala atau arogan bahwa saya ini jenius atau pintar, sebaliknya saya seharusnya bersyukur bisa berkuliah di ITB dan setelah lulus kelak bisa “melunasi kemenangan” saya dengan menyekolahkan 300 anak bangsa lainnya minimal sampai ke ITB.

Saya tahu betul bagaimana penuh perjuangannya kehidupan seorang pengajar di negeri ini karena Ibu saya adalah seorang guru Bahasa Inggris di sebuah SMA Negeri di Jakarta Timur. Tiap hari dari hari Senin-Jum’at beliau bangun pukul 4 Subuh disaat saya masih tertidur dan pulang sekitar jam 6-7 malam. Terkadang saat hari Sabtu atau Minggu Ibu saya juga datang ke SMA tempatnya mengajar untuk mengikuti rapat atau kegiatan lain. Seandainya Pemimpin negeri ini membungkuk dan mencium tangan seorang guru setiap tahunnya untuk memberi penghargaan kepada para pahlawan ini, betapa bahagianya mereka. Tapi mungkin mereka tidak membutuhkan hal itu, mungkin mereka hanya ingin dihargai, bisa mengajar dengan tenang tanpa harus memikirkan apa yang harus dimasak hari ini atau apakah ada susu yang bisa dibeli untuk buah hatinya. Mungkin mereka hanya ingin diingat saat anak muridnya telah berhasil menjadi manusia seutuhnya, memanggil mereka saat bertemu di jalan atau mengundang mereka di hari berbahagia dengan sang pasangan. Saya selalu ingat betapa bahagianya wajah seorang guru atau dosen saya saat menyapa mereka bila berpapasan disebuah tempat, walaupun terkadang mereka lupa akan nama saya karena tidak bertemu selama bertahun-tahun, tapi mereka selalu ingat wajah saya, guru mana di dunia ini yang lupa akan wajah anak didiknya? Ibu saya juga terkadang bercerita bila dia berpapasan dengan eks anak muridnya atau bertemu di sebuah acara. Wajah ibu saya terlihat berseri-seri saat menceritakan bahwa eks anak muridnya itu telah berhasil atau sukses di bidang yang digelutinya. Mungkin itulah sebabnya mereka disebut Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, karena mereka tidak mengharapkan tanda jasa apapun untuk diberikan. Jika dianalogikan saya ini Totto-Chan versi lain, seorang anak manusia yang keras kepala dan nakal tapi Mr Kobayashi (orang tua,guru dan dosen saya) sangat sabar mendidik saya dari saya kecil sampai detik ini. Tidak ada pengaruh yang lebih besar untuk saya pribadi daripada para suri tauladan saya ini.

Karena penyesalan selalu datang terlambat dan saat ini saya hanya bisa berterimakasih melalui tulisan tanpa harus menunggu tanggal 25 November atau 2 Mei. Maka note ini saya persembahkan kepad pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa, Ibuku, Guru dan Dosen saya (yang beberapa yang telah mendahului saya menghadap Sang Khalik), Sepupu saya dan Kawan-kawan yang akan menjadi Dosen, Kawan-kawan saya di Indonesia Mengajar, Rumah Belajar Ciroyom, TK Citra Nusa, pembimbing saya dan untuk setiap pengajar dimanapun kalian berada. Hanya catatan kecil ini yang bisa saya persembahkan untuk kalian,  terimakasih Pahlawanku.

Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani

(Raden Mas Soewardi Soerjaningrat)

 

Tuhan memberkati 🙂

One Man for One World (Part 1 Warren Buffett and Bai Fangli)

Salam Sejahtera

Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself

(Leo Tolstoy, Russian Novelist)

Sehabis menonton pertandingan persahabatan antara Indonesia vs Uruguay yang berakhir dengan kekalahan telak Timnas 1-7 saya jadi terinspirasi untuk membuat note ini. Sejujurnya note ini bukan tentang kekecewaan saya atas amburadulnya persepakbolaan Indonesia (walaupun saya sempat “bermimpi” tentang kemenangan Indonesia atas juara keempat PD 2010 ini saat Boaz mencetak gol indahnya). Note saya ini tentang peran sebuah individu (ya, anda dan saya) didalam kehidupan. Kenapa saya tiba-tiba terpikir tentang peran individu? Karena saya merasa ada sesuatu yang “janggal” saat saya menonton pertandingan persahabatan antara Timnas vs Uruguay. Presiden SBY (bersama Menpora Andi Mallarangeng dan Ketua PSSI Nurdin Halid) turun langsung ke lapangan untuk menyalami pemain Timnas dan Uruguay serta wasit dan para asistennya. Ok, saya apresiasi itu sebagai bentuk kehormatan, tetapi setelah bersalaman (dan berfoto bersama) kemudian Presiden dkk kembali ke tempat duduk. Lho, apa yang salah? Ya memang tidak ada yang salah seandainya 3 hari yang lalu tidak terjadi banjir bandang di Wasior, Papua yang sampai saat ini menelan korban meninggal 101 orang! Kenapa SBY tidak memimpin mengheningkan cipta sebagai tanda berduka cita? Seandainya saya orang Indonesia yang kebetulan tinggal di Wasior dan saat ini mengungsi karena banjir, maka betapa senangnya hati saya saat melihat pemimpin saya berkata seperti ini dihadapan puluhan juta rakyat Indonesia: “Sebelum pertandingan ini dimulai, izinkan saya memimpin untuk mengheningkan cipta sejenak untuk menghormati saudara/i kita di Wasior, Papua yang tertimpa bencana dan sehabis pertandingan ini selesai saya langsung terbang ke sana untuk menengok mereka”. Ah indahnya

One man for one world, judul note ini sama dengan alamat blog saya di wordpress. Saat awal saya membuat blog (terima kasih untuk dua sahabat saya Cinta Azwiendasari dan Rudy Nasuha yang mentrigger saya untuk membuat blog) saya bingung untuk membuat judul alamat blog saya, tetapi satu hal, saya selalu punya obsesi “gila” untuk mengubah dunia, ya tentu saja dunia yang lebih baik bukan dunia seperti sekarang ini dimana kemiskinan menjadi pembunuh utama manusia di bumi ini. Maka dari itu saya lalu terpikir untuk membuat sebuah judul yang beridentitas “seseorang yang mengubah dunia” dan eureka! Terciptalah One man for one world (yah saya memakai bahasa Inggris dengan harapan ide2 gila saya mengglobal karena dibaca orang2 dari luar Indonesia, nyatanya hampir semua artikel diblog saya berbahasa Indonesia -_-). Note ini berisikan tentang bagaimana sebuah individu bisa mengubah dunia ini, tapi tentu saja sebelum mengubah dunia, ubahlah diri anda terlebih dahulu 🙂

Ok, pertama mari kita terbang ke Omaha, Nebraska. Kita akan bertegur sapa dengan salah seorang terkaya didunia ini. “Hi, how are you?” Seorang lelaki tua berwajah ramah menyapa saya. Saya menjabat tangannya. Aneh, penampilan orang ini terlalu sederhana untuk ukuran orang terkaya didunia, terlebih rumahnya, sama seperti kebanyakan rumah orang Amerika 30 tahun yang lalu! Ya rumah itu kelihatan sederhana sekali. Saya pun mencuri-curi pandang ke kerah bajunya berharap menemukan sebuah tulisan merek baju yang bisa berharga ribuan dollar AS, tapi saya kecewa karena hanya menemukan merek baju yang biasa di jual di Wal-Mart atau Target. “Blackberry or Apple?” oh ternyata dia menawarkan jus ke saya. Kemudian saya jawab “Apple please”, setelah minum kemudian saya diajak jalan untuk cari makan. Lho? Lho? Lho? Saya tidak salah liat ini? Kenapa hanya ada satu mobil di garasinya, dan itu mobil tua pula, lebih anehnya lagi kenapa dia duduk di belakang setir, tidak adakah sopir pribadi dia? Lamunan saya terputus saat dia berkata “Hey, what are you waiting for? C’mon son”. Kemudian dijalan dia bercerita tentang masa kecilnya, dimana dia berjualan koran dan coke, lalu bagaimana anaknya mengira dia bekerja sebagai tukang ledeng dan bagaimana istrinya “memaksa dia” untuk membuat sebuah rumah peristirahatan bagi keluarganya. Kemudian kami berhenti di sebuah restoran sederhana dan memesan menu lunch masing2, eh? Ga salah ini? Wah saya lagi mimpi atau orang ini yang aneh? Saya sedang berbicara dengan salah satu orang terkaya didunia di salah satu restoran sederhana di Omaha? Mungkin orang ini terlalu pelit untuk mengeluarkan duitnya.

“Hey son, you know what? I think i want to donate 99 percent of my wealth to people” Ufgh, Argh, Uhuk-uhuk, hampir saya tersedak dan menyemburkan makanan yang ada dimulut saya kearah dia. “What?? Pardon me, 99 percent you say sir?” Apa yang ada dikepala orang ini? Saya pribadi saja pasti akan berpikir lebih dari duakali untuk menyumbangkan 99 persen kekayaan saya ke orang lain. Tapi orang ini seperti tanpa beban berkata akan menyumbangkan 99 persen kekayaan dia, bukankah dia telah berpuluh-puluh tahun bekerja keras banting tulang? Tapi dia malah hidup sederhana dan menyumbangkan 99 persen kekayaan dia! Edan rek! Tidak habis pikir saya akan pria ini. Belum habis pusing di kepala saya, lalu dia bercerita akan mengajak salah satu orang terkaya lain yaitu Bill Gates untuk memulai sebuah gerakan menggandeng orang-orang terkaya di AS, Eropa, China, India dan seluruh dunia untuk menyumbangkan minimal setengah kekayaan mereka ke lembaga amal dan donasi, dia akan menamai program itu The Giving Pledge.

Pria itu bernama Warren Buffet dan menurut Forbes, total kekayaan Buffett pada tahun 2010 ini berjumlah US$ 47 miliar atau setara dengan Rp 423 Triliun! Sangat cukup untuk menggaji para anggota dewan yang terhormat berulang-ulang sampai 1000 tahun! Jadi duit rakyat bisa buat pendidikan dan kesehatan gratis selama 1000 tahun 🙂

Dari Omaha, Nebraska, Mari kita berlayar menyeberangi Samudra Pasifik ke arah Barat, ke negeri yang sekarang dibicarakan dimana-mana, negeri yang menolong perekonomian dunia saat krisis, negeri yang sedang belajar menjadi sebuah kekuatan baru ekonomi dan politik di dunia, belom, sayangnya belom Indonesia, tapi RRC. Setelah bersandar di Pearl River Delta, Shenzhen, kita akan melanjutkan melalui jalan darat ke arah sebuah provinsi di tenggara, Tianjin tepatnya. Bukan Hu Jintao Presiden RRC atau Wen Jiaobao PM RRC atau Ren Zhengfei pendiri raksasa telekomunikasi Huawei tapi seorang tukang becak yang akan kita temui, ya anda tidak salah baca, kita akan berkenalan dengan abang becak.

Hei, bukankah note ini tentang pengaruh individu yang mengubah dunia? Lalu apa hebatnya seorang tukang becak di RRC sana?? Apa bedanya dia dengan tukang becak yang mangkal di depan rumah saya???

Tak kenal maka tak sayang kan? Kalau begitu mari kita mengenal dia lebih dekat 🙂

Pria sederhana ini bernama Bai Fangli, hampir setengah hidupnya (56 tahun dari 93 tahun usianya) dia dedikasikan untuk mengayuh becak. Tubuhnya kurus dan kecil, tapi itu tidak menghalangi dia untuk mengayuh becaknya mengantarkan penumpang. Dia sangat disukai penumpang karena murah senyum dan selalu bersemangat dalam mengayuh becaknya. Dia tinggal di sebuah gubuk reot di permukiman kumuh. Gubuk itu bukan punya dia, tapi dia menyewa dari orang lain perhari. Tetangga dia rata-rata berprofesi sebagai pengayuh becak seperti dia, ada juga yang menjadi penjual asongan dan pemulung. Didalam gubuk reot itu hanya terdapat ruang yang sempit untuk Bai Fangli beristirahat, hanya ada kasur lusuh dan piring seng untuk dia makan, sisanya tidak ada barang berarti di gubuk reot itu.

Lho? Apa yang menarik?? Hal-hal itu lumrah terjadi pada kehidupan tukang becak

Ok, mari kita masuk ke bagian terpenting di hidupnya yang mengubah dirinya, saya dan mungkin juga anda 🙂

Pada tahun 1987 saat dia berumur 74 tahun, ada suatu hal yang mengganggu pikiran dia saat dia bekerja. Pada saat itu dia melihat sekelompok anak-anak yang bekerja mengangkut barang-barang. Dan kemudian bertanyalah Bai Fangli ke salah satu anak. “Hei nak, apa yang kau lakukan? Mengapa kau tidak bersekolah?” lalu jawab anak itu “Orangtuaku tidak ada kek, saya harus mencari uang untuk saya dan adik-adik saya” lanjut dia “karena itu saya tidak bersekolah”. Malamnya Bai Fangli terngiang-ngiang kata-kata anak itu, dia melihat dirinya sendiri yang miskin dan berpikir bagaimana mungkin sebuah generasi berubah jika anak-anak tidak mendapatkan pendidikan. Mereka harus memperoleh pendidikan! Itulah tekad Bai Fangli malam itu. Esoknya dia mengayuh becaknya lebih semangat karena dia mempunyai sebuah misi, yaitu membantu anak-anak tersebut bersekolah. Setelah mengayuh becaknya seharian penuh dengan peluh dia kemudian membawa hasil kerjakerasnya dikurangi uang makan dan uang sewa gubuknya ke sebuah sekolah yatim piatu di Tianjin.

Sejak hari itu, tiap hari, 30 hari dalam sebulan, 365 hari dalam setahun, Bai Fangli terus mengayuh becaknya setiap hari untuk menyumbangkan penghasilannya bagi pendidikan. Pada saat pertama dia menyumbangkan uangnya, dia tidak mau menerima tanda terima dan selalu menolak dibuatkan tanda terima. Setiap Renminbi/Yuan yang dia berikan selalu lecek bekas keringat dia, namun pihak sekolah selalu menerimanya dengan senang hati. Suatu hari dia terjatuh dari becaknya dan tangannya terluka, tapi alih-alih berhenti bekerja dan pergi berobat, dia tetap bekerja seperti biasa. Ya, dia sangat keras kepala dalam hal membantu orang. Dalam pikiran dia “Tidak apalah saya seperti ini yang penting anak-anak itu harus tetap bersekolah”

Selama hidupnya Bai Fangli berusia 93 tahun, 56 tahun dia habiskan untuk mengayuh becaknya, 18 tahun terakhir didalam usia dia, tidak pernah tidak, setiap hari dia selalu menyumbangkan semua hasil kerja kerasnya ke pendidikan anak-anak miskin yatim piatu di Tianjin. Bai Fangli meninggal dalam kemiskinan, tetapi selama hidupnya dia sudah menyumbangkan RMB 350.000 (setara dengan Rp 455 juta), dia telah membantu sedikitnya 300 anak miskin untuk bisa memperoleh pendidikan.

Sumber : Bermacam-macam, salah duanya :

http://news.yahoo.com/s/yblog_upshot/20100708/bs_yblog_upshot/buffett-recounts-the-best-advice-hes-ever-received

http://www.fupin.org.cn/en/news/zzy.asp?newsid=711291502197617

Berpura-puralah Anda Bodoh

Salam sejahtera

Knowledge cannot replace friendship. I’d rather be an idiot than to lose you (Patrick to Spongebob)

Karena status FB saya yang terakhir seperti diatas, saya jadi  terinspirasi untuk membikin note ini (thanks to Patrick!). Salah satu hal yang saya benci jika saya berbicara dengan orang yang lebih pintar dari saya adalah pendapat saya tidak didengar. Jika saya berbicara tentang topik tertentu, lawan bicara saya kadang tidak antusias dengan pendapat saya, atau mengalihkan perhatian ke orang disebelah saya yang menurut dia opini orang tersebut (jauh) lebih baik dibandingkan opini saya. Anda sering merasakannya? Tenang saja anda tidak sendirian. Tapi sebaliknya, jujur saja, saya pun sering berkelakuan menyebalkan seperti itu, karena saya sering membaca buku, update berita dsb saya merasa lebih tau dibanding lawan bicara saya sehingga saya sering memotong pembicaraan atau tidak mendengarkan pendapat lawan bicara saya (ugh, it’s annoying).

Dale Carnegie dalam bukunya yang legendaris “How to win friends and influence people” juga pernah melakukan hal yang sangat manusiawi tapi menyebalkan itu. Pada suatu waktu Carnegie diundang jamuan makan malam oleh seorang temannya. Dalam acara itu, sang tuan rumah duduk persis disebelah kanan Carnegie. Kemudian dalam sebuah topik pembicaraan, si tuan rumah mengatakan sebuah kutipan yang dia bilang dari kitab suci. Kemudian Carnegie berkata dalam hati : “Apa? Kitab suci? Dia salah, itu kutipan dari Shakespeare, aku tahu itu, jelas sekali, itu dari Shakespeare!”. Kemudian untuk memperlihatkan rasa superior atas lawan bicaranya, Carnegie langsung membantah bahwa kutipan itu dari kitab suci, dan tak lama kemudian kedua orang itu langsung berdebat mengenai sumber kutipan itu.

Tak lama kemudian, Carnegie meminta temannya yang duduk disebelah kirinya, seseorang yang bernama Gammond (yang bertahun-tahun telah mempelajari literatur Shakespeare) untuk dimintai pendapatnya. Kemudian kedua orang yang berdebat itu setuju untuk meminta pendapat Gammond mengenai sumber kutipan itu.  Setelah mendengar tuan rumah berbicara, Gammond kemudian menendang kaki Carnegie dibawah meja dan berkata : “ Carnegie kau salah, anda yang benar tuan, itu kutipan dari kitab suci bukan dari Shakespeare.”

Sepulang dari acara tersebut, Carnegie yang tak habis pikir dengan jawaban Gammond, langsung menanyakan hal tersebut : “Hei, kau tahu itu kutipan Shakespeare tapi mengapa kau memberi jawaban seperti itu?” kemudian Gammond membalas dengan jawaban : “Ya aku tahu, itu Hamlet, babak kelima adegan kedua. Tapi kita adalah tamu di acara itu teman, mengapa harus membuktikan bahwa dia salah? Apakah kau mau menjadikan dia seperti dirimu? Mengapa tidak membiarkan dia menyelamatkan mukanya? Dia tidak meminta pendapatmu, mengapa harus mendebat dia?”. Kemudian Carnegie menyadari kesalahannya, sang tuan rumah bukan hanya dibuat tidak nyaman atas sikap dia tapi hampir dibuat malu oleh Carnegie. Sejak kejadian itu, Carnegie yang biasanya selalu ngotot untuk menang dalam berdiskusi mulai belajar mendengarkan pendapat orang yang berbeda dari tiap sudut pandang.

Seperti Carnegie, saya juga sering seperti itu, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, apabila saya tahu ada yang salah dengan perkataan dari lawan bicara, alih2 berkata setelah lawan bicara selesai berbicara : “Hmm, yang saya tahu seperti ini bla bla bla tapi mungkin saya bisa salah”, saya justru memotong pembicaraan dan berkata : “ Tidak, anda salah, yang benar itu  bla bla bla dst”. Ya seringkali saya tidak menyadari telah melakukan hal itu, karena yang ada di pikiran saya adalah saya merasa bangga bisa mengalahkan orang lain dalam adu pendapat dan merasa superior atas lawan bicara saya. Ya betapa menyebalkannya saya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita kadang menyepelekan lawan bicara kita bila dia lebih rendah tingkat pendidikannya, atau status sosialnya dibawah kita atau umurnya lebih muda dari kita. Jujur saja, setelah lulus kuliah, saya justru jauh lebih banyak belajar tentang kehidupan dari orang2 yang tidak seberuntung saya, mereka yang bahkan tidak pernah merasakan lulus sekolah dasar, mereka yang bertahan hidup hanya dengan dua lembar uang sepuluh ribu rupiah seharinya, ya mereka yang merepresentasikan Indonesia sesungguhnya, yang seharusnya didengarkan oleh petinggi-petinggi Negara ini yang kakinya tidak bertelanjang, yang badannya tidak berbau keringat bercampur debu dan matahari serta yang anaknya tidak menangis karena tidak ada susu di genggamannya.

Bukankah sangat indah jika anda sesekali mengobrol dengan seorang anak yang bernyanyi dengan suara sengau di bis yang anda tumpangi, dengan nenek2 yang menengadahkan tangannya diseberang kaca mobil anda atau bahkan dengan pembantu anda sendiri? Berpura-puralah anda bodoh, berpura-puralah anda tidak tahu tentang apapun, dengarkanlah suara hati mereka.

Cobalah melakukan hal itu sesekali, bukan, bukan maksud saya agar anda merasa kasihan kepada mereka, jauh lebih dari itu, anda akan memahami maksud saya jika anda telah melakukkannya.

Ps : Note ini khusus saya dedikasikan untuk kawan2 yang bergabung dengan gerakan Indonesia Mengajar, mereka yang akan memberi dampak yang lebih besar ke bangsa ini daripada sekadar coretan yang ada di tulisan ini *actions speak louder than words*, Engkong, Ridwan, Ujan dan Arum.  Selamat membangun bangsa kawan!

Stay hungry, Stay foolish (Steve Jobs)

Salam hangat

JRS

Muhammad Yunus, Pahlawan Kemanusiaan dari Chittagong

Salam sejahtera 🙂

Orang ini genius. Jika bank membuat pinjaman besar, ia membuat pinjaman kecil. Jika bank butuh formulir dan surat perjanjian, pinjamannya untuk kaum buta huruf. Apapun yang dilakukan bank, ia melakukan kebalikannya (S D Harris, Director Microcredit Summit Campaign)

Beri tepuk tangan untuk kawan kita, teladan perjuangan melawan kemiskinan (Hugo Chavez, Presiden Venezuela)

Dua kutipan ditujukan kepada Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank dan peraih Nobel Perdamaian 2006, kutipan diatas di buku Banker to the Poor : Microlending and the Battle against World Poverty dan Creating World without Poverty.

Note ini berisi ringkasan dari dua buku tersebut, saya menyarankan anda membelinya 🙂

# Prof Yunus lahir di Chittagong pada 1940 sebagai anak ke-3 dari 14 bersaudara. Mengalami pemisahan Pakistan dari India dan aktif memperjuangkan kemerdekaan Bangladesh dari Pakistan. Dia menerima beasiswa Fulbright di Vanderbilt University, kemudian mengajar di Chittagong University sebagai dekan

# ‘Ya Tuhan Ya Tuhan. Seluruh derita semua keluarga itu hanya karena tidak ada uang 856 Taka (27 USD)’ itu kata2 yang diucapkan Yunus saat dia menebus utang 42 warga di Jobra.

# Yunus tidak bisa tidur malamnya, dia mengajar teori2 ekonomi dan angka2 miliaran dollar di kelasnya, tapi dia menjumpai perempuan di Jobra (desa terdekat tempatnya mengajar) bernama Sufiya yang hanya hidup dengan 50 poysha (2 sen USD) per hari

# Esoknya, dia bergegas ke Janata Bank cabang tempat kampus dia mengajar untuk meminjam dana. Akan tetapi manajer bank tersebut membuat dia kesal karena tidak bersedia mengeluarkan kredit dengan alasan peminjam di Jobra buta huruf.

# Jengkel dengan birokrasi bank tersebut akhirnya dia memaksa untuk bertemu manajer regional. Setelah bertemu kemudian dia menjaminkan dirinya sendiri untuk pinjaman 10.000 Taka (USD 300), itupun butuh 6 bulan birokrasi surat-menyurat untuk menyetujui pinjaman.

# Januari 1977 Yunus memulai proyek percontohan Grameen Bank di Jobra. Pemberian pinjaman bukan melalui individu tapi kelompok dan diberi ujian. Pada saat salah seorang perempuan menerima pinjaman inilah kesan yang didapat Yunus :

‘Ketika akhirnya ia menerima uang itu, tubuhnya gemetaran. Air mata berurai di wajahnya. Dia tidak pernah melihat uang sebanyak itu sepanjang hidupnya. Dia tidak pernah membayangkannya ada dalam genggamannya. Dia menggenggam uang itu selembut ia menggenggam seekor kelinci. Dia tidak bisa tidur malamnya.’

# Sejak saat itu Yunus dibantu anak didiknya mengucurkan pinjaman bahkan sampai kepada pengemis (bebas bunga). Setelah berhasil, kemudian dia mengembangkan konsepnya ke Malaysia, Filipina bahkan sampai ke Eropa dan AS (awal di Arkansas saat Bill Clinton menjadi Gubernur)

# Yunus berhasil menjungkirbalikan anggapan negara2 maju bahwa negara miskin tidak bisa menolong dirinya sendiri, tanpa melalui bantuan asing, Yunus berhasil menggerakkan ekonomi riil Bangladesh. Dengan intervensi belasan sen US dollar dia mampu mengalahkan intervensi miliaran US dollar lembaga donor Internasional.

# Yunus juga ‘mempermalukan’ institusi perbankan. Tingkat pengembalian kepada Grameen Bank mencapai 98 persen. Bukankah sebuah paradoks kalau bank lebih percaya peminjam kakap yang cenderung ‘ngemplang’ dibanding percaya pada perempuan miskin yang taat mengembalikan pinjaman?

# ‘Mereka sangat punya alasan untuk membayar anda kembali, yakni untuk mendapatkan pinjaman lagi dan melanjutkan hidup esok harinya! Itulah jaminan terbaik yang bisa anda dapatkan : nyawa mereka!’ kata Yunus saat mendebat manajer Janata Bank yang tidak mau memberi pinjaman ke kaum miskin karena resikonya sangat tinggi.

# Yunus juga membongkar kepalsuan religius yang bercampur adat terhadap penolakan sistem perbankan Grameen Bank yang menyalurkan kepada perempuan. Yunus seorang Muslim yang taat beribadah dan menghargai sopan santun. Dia mempunya perhatian penuh terhadap orang miskin terutama perempuan Bangladesh yang sangat menderita. Yunus melihat perempuan miskin di Bangladesh memiliki kedudukan sosial paling rawan. Jika ada anggota keluarga kelaparan, hukum tak tertulis mengatakan ibulah yang pertama yang mengalaminya

# Yunus berhasil mereformasi birokrasi yang berbelit-belit. Dia berhasil membuat UU Grameen Bank, konsep dan struktur kepemilikan yang berbeda dengan bank konvensional dimana para nasabah yang tak beralas kaki dan buta huruf menjadi pemegang saham dan komisaris Grameen Bank dengan kepemilikan saham 93 persen.

# Yunus punya mimpi bahwa kemiskinan tidak ada lagi di dunia ini, kemiskinan adalah penyangkalan hak asasi manusia. Dia yakin suatu saat kemiskinan hanya dijumpai di museum kemiskinan di tiap negara.

‘Saya percaya sepenuh hati bahwa kita bisa mencipakan dunia bebas kemiskinan. Mari kita bergandeng tangan untuk memberi setiap manusia kesempatan yang adil untuk melepaskan energi dan kreativitas mereka.’

(Pidato Yunus saat menerima Nobel)

Salam hangat

JRS