P.K Ojong : Hidup Sederhana Berpikir Mulia

Salam sejahtera ๐Ÿ™‚

Saya baru selesai membaca sebuah biografi tentang alm P.K Ojong, salah seorang pendiri Grup Kompas Gramedia. P.K Ojong mengingatkan saya dengan figur Jend (Purn) Hoegeng, mantan Kapolri yang hidupnya jujur dan sederhana.

Note ini berisi ringkasan yang ada di biografi tersebut.

# P.K Ojong atau Petrus Kanisius Ojong terlahir di Bukit Tinggi, 25 Juli 1920. Namanya saat lahir adalah Auw Jong Peng Koen, ayahnya Auw Jong Pauw lahir pada tahun 1870 di Pulau Quemoy, Taiwan. Dia mempunyai 3 saudara kandung dan 7 saudara tiri, Ibunya (Njo Loan Eng Nio) menikah setelah ayahnya menjadi duda karena istrinya Ang Ho Nio meninggal setelah melahirkan anak terakhir.

# Ojong kecil diajarkan untuk hemat. Nasi di piring harus diharuskan sampai butir terakhir. ‘Memperoleh sebutir nasi itu sulit’ kata ayahnya. Ketika umur 12, Ojong bertanya ke ayahnya kenapa masih memakai ikat pinggang yang berumur 12 tahun dan tidak beli baru. Ayahnya berkata ‘Untuk apa? Ini kan masih bisa dipakai?’. Pada saat dewasa, Ojong memecahkan rekor ayahnya dengan memakai ikat pinggang selama 13 tahun tanpa mengganti.

# Saking sederhananya, ia pernah ditawari bekerja sebagai pemetik buah persik saat diajak temannya ke Kanada. Tawaran itu tidak dianggapnya sebagai penghinaan, malah kepada temannya dia bercanda dalam suratnya: ‘Apakah lowongan sebagai pemetik persik masih terbuka buat saya?

# Dia bergaul tanpa melihat status. Saat kematiannya yang melayat ada mahasiswa, menteri, tokoh2 agama, tukang sapu, seniman, sopir, duta besar, tahanan politik, pengusaha dsb.

# Dia kutu buku (bahkan sampai akhir hayatnya, dia wafat dengan buku disampingnya) beragam topik dari hukum (dia alumni Rechts Hooge School/Hukum UI), sejarah, seni ,sastra, psikologi dll. Dia menyukai tanaman dan pengoleksi benda-benda seni.

#Ojong yang setia mengirim buku2 kepada Sutan Sjahrir, Prawoto Mangkusasmito, Sultan Hamid, Anak Agung Gde Agung, Soebadio Sastrosatomo dan Mohammad Roem (Perjanjian Roem-Roijen) saat mereka di penjara di Madiun

# Selain tokoh diatas, Ojong banyak bertukar pikiran dengan Mochtar Lubis (saat Orde Baru berani bilang ‘Korupsi sudah membudaya di Indonesia’ kemudian dipenjara), Goenawan Mohammad (Tempo), W.S Rendra, Ajip Rosidi, Ramadhan K.H, Pramoedya, Taufik Ismail, Soe Hok Gie dsb.

# Dia mempelopori berdirinya R.S Sumber Waras, Universitas Trisakti dan Tarumanegara, Yayasan Obor, YLBHI (bersama Ali Sadikin, Andan Buyung dll), Radio Sonora, dsb.

# Dia pernah mengalami 2 kali pembredelan. Pertama pada masa Orde Lama saat menjadi Pemimpin Star Weekly (dibredel karena sering mengkritik kebijakan Soekarno) kedua Kompas pada masa Orde Baru karena meliput demo pergerakan mahasiswa ITB tahun 78 yang meminta Soeharto turun.

# Pemilik Nyonya Rumah di Bandung, Julie adalah pengasuh rubrik masak di Kompas pada awal 70an. Nama Nyonya Rumah adalah nama dia saat mengasuh rubrik masak di Star Weekly. Sesama mantan murid HCK (Hollandsch Chineesche Kweekschool/setingkat SMA)yang menggantikan Ojong sebagai kepala sekolah Budi Mulia

# Konsep ’empat sehat lima sempurna’ diperkenalkan oleh Prof Poorwo Soedarmo, seorang dokter ahli gizi yang mengasuh ruang gizi di Star Weekly. Ojong sangat peduli dengan masalah gizi rakyat Indonesia.

#Ojong seorang yang nasionalis. Menurutnya, warga negara Indonesia selayaknya belajar di sekolah berbahasa dan berorientasi Indonesia. Pada dekade 50an puluhan ribu anak WNI keturunan duduk di sekolah asing dengan bahasa pengantar, orientasi, kurikulum dan guru asing pula. Jika hal ini berlangsung terus menurut Ojong, makin lama akan makin banyak orang yang namanya saja WNI tetapi kurang paham bahasa Indonesia, kurang tahu sejarah, dan mungkin pula kurang cinta pada negara dimana ia menjadi warganya.

# Ojong merupakan teladan bagi banyak orang. Pada saat menjadi pemimpin Star Weekly, dia bersedia memompa sepeda motor yang kempes milik karyawannya (Tan Hong Gie) yang lebih muda 15 tahun saat berkunjung ke rumahnya, dia juga bersedia mengunjungi rumah karyawannya (Tan Tjoei Hokc) yang sakit di gang becek, bahkan uang makan dia sama seperti sopirnya saat dia memimpin Kompas.

# Ojong adalah seorang pekerja keras. ‘Di kantor ia tidak pernah menganggur’ cerita Vera Ong, sekretaris Star Weekly. Kalau sudah menyelesaikan tulisan dan tersisa sedikit waktu, ia mengambil surat dari meja Vera untuk diketik sendiri. Dalam kamusnya tidak terdapat istilah ‘tidak ada pekerjan’. Menurut Ojong ‘Pekerjaan bisa dicari. Membaca buku pun termasuk bekerja’

# Ojong orang yang gigih dan tidak setengah2 kalau melaksanakan sesuatu, apalagi dalam usaha merebut hati gadis pujaannya, Catherine Oei Kian Kiat. Walaupun sempat ditolak pergi misa bareng, Ojong tetap kekeuh mengajak misa. Pada tanggal 25 Desember 1947 kencan pertama mereka, 24 April 1949 mereka bertunangan dan menikah tanggal 6 Juli 1949. Mereka dikaruniai enam anak (empat laki-laki dan dua perempuan)

Salam Hangat
JRS

Advertisements

Asymmetric Information

Aloha ๐Ÿ™‚

To be honest, entah kenapa topik ini ada di kepala saya, banyak yang saya mau share tapi terbatas (note di fb lewat hp terbatas hanya 2475 karakter).

Asymmetric Information (AI) adalah sebuah studi yang mempelajari suatu keputusan didalam transaksi dimana ada pihak yang memiliki informasi yang lebih banyak/baik dibanding pihak lain (Wikipedia). Didalam bidang ekonomi, AI telah dibahas oleh Stiglitz, Akerlof dan Spence dalam karya masing2 sehingga diberi ganjaran Nobel Ekonomi. Note saya membahas AI diluar Ekonomi.

So, here we go :

# Pendidikan

Alkisah, saya bertemu seorang pemuda brilian, dia memperoleh beasiswa ke Harvard Law School, saya bertanya ke dia ‘Bagaimana cara mendapatkan beasiswa ke Harvard?’ lalu dia memberikan informasi, sebenarnya cukup banyak beasiswa untuk kuliah di Harvard, tapi tiap tahun jumlah aplikasi yang datang dari Indonesia kalah banyak dari negara2 lain, sehingga tidak banyak pelajar dari Indonesia yang dapat beasiswa. Terjadi AI beasiswa di kalangan pelajar Indonesia.

# Politik

Dana studi banding anggota DPR tahun 2010 berjumlah Rp 122 Miliar. Heran, di era informasi, masih dibutuhkan studi banding? Saya belum pernah ke China & Vietnam tapi lewat internet tahu bagaimana Gaige Kaifang & Doi Moi mengubah kedua negara itu, saya belum pernah bertemu JW Marriott, Stan Shih & Ingvar Kamprad tapi lewat buku tahu bagaimana perjuangan mereka saat mendirikan industri perhotelan, elektronik & furnitur di seluruh dunia. Terjadi AI di DPR.

# Hukum

Masih ingat kisah Nenek Minah dan tiga buah kakao?

http://regional.kompas.com/read/2009/11/20/08094942%20/elegi.minah.dan.tiga.buah.kakao.di.meja.hijau…

Atau ‘letter of the year’ dari seorang bapak yang trauma karena patwal SBY?

http://nasional.kompas.com/read/2010/07/17/08042646/Wahai.Para.Pejabat..Dengarlah.Ini…

Mungkin kalau tidak di blow out oleh media sehingga terjadi AI, Nenek Minah tetap dipenjara dan Patwal SBY tetap arogan dan semena-mena.

# SARA

SARA? Ya betul! Tentu saja bukan nama orang, tapi Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan. Lantas apa kaitan AI dengan isu sensitif ini? Menurut saya sangat jelas kaitannya. Perselisihan antar SARA disebabkan karena AI, kita curiga, benci atau memusuhi orang yang tidak satu Suku, Agama, Ras dan Golongan karena kita tidak mengenal baik orang tersebut, sebelum kita mengenal (mendapatkan informasi), kita sudah menggeneralisir secara negatif (baca note saya sebelumnya) orang tersebut berdasarkan identitasnya. Bukankah ada pepatah, jika tak kenal maka tak sayang?

Salam hangat
JRS

One of the best days in my life :)

Hampir ditipu buyer, stress di kemacetan Jakarta, sampai rumah tidak ada orang, tidak bawa kunci, tidak bisa masuk rumah, duit di dompet abis, nyoba2 ngakalin pintu ala MacGyver gagal, nyoba masuk lewat genteng ternyata genteng beraaattt banget ga bisa digeser, keringat sudah berpeluh, pasrah akhirnya nongkrong di genteng menyaksikan senja berakhir, sinar mentari memerah seakan malu-malu untuk berpamitan, adzan maghrib berkumandang waktunya berbuka (walau saya ga puasa, selamat berbuka buat teman2), nunggu di pendopo depan rumah bersama kucing si kermit dan ternyata si kermit ngundang teman-temannya! nyamuk! mau beli autan duit tinggal gope, ngesot ke warung terdekat nanya autan dan puji Tuhan harga autan gope! finally pulsa masih ada di hp sehingga bisa internetan, baca berita, cek email, buka fb, twitter, stalking dikit2 :p

Ya Tuhan tolong tibakan kedua orangtua saya di rumah ini dengan selamat, melepas kangen sekaligus saya mau landing di kasur tercinta

But above all, Terima kasih Tuhan ini hari terbaik didalam hidupku ๐Ÿ™‚

Marriott’s Poem

The tree that never had to fight
For sun and sky and air and light,
But stood out in the open plain
And always got its share of rain,
Never became a forest king,
But lived and died a scrubby thing.

The man who never had to fight
To win his share of sun and sky and air and light
Never became a manly man,
But lived and died as he began.

Good timber does not grow in ease
The stronger the wind, the tougher the trees.

Source :

Marriott : The JW Marriott Story by Robert O’Brien

Generalisasi dan Inferiority Complex, Sebuah Paradigma yang Berbahaya

Salam sejahtera ๐Ÿ™‚

Generalisasi

Beberapa hari yang lalu saya baru menonton film My Name is Khan, sebuah film bagus tentang perjuangan, cinta dan perbedaan. Film tersebut menceritakan (warning spoiler!) perjuangan Khan (Shahrukh Khan) yang mempunyai penyakit Asperger Syndrome (Autis) untuk bertemu Presiden AS dan mengatakan ‘My Name is Khan and I’m not terrorist). Khan melakukan itu karena terdorong oleh pernyataan emosional istrinya Mahindra (si cantik Kajol) yang kecewa hidupnya berantakan karena menikahi Khan yang seorang Muslim. Latar belakang film adalah AS setelah peristiwa 9/11, banyak warga AS yang paranoid terhadap pemeluk Islam, mereka menggeneralisir semua Muslim adalah berbahaya dan ajaran Islam untuk mencelakakan orang lain. Saking paranoidnya orang2 AS saat itu sampai ada seorang karakter di film yang beragama Sikh harus melepas penutup kepalanya karena takut dikira seorang Muslim, atau ketika adik Khan menyuruh istrinya untuk melepas jilbab karena situasi tidak memungkinkan (banyak warga Muslim yang diintimidasi, dilecehkan dan diteror).

My Name is Khan mengajarkan saya bagaimana kejamnya sebuah generalisasi (yang negatif) terhadap sebuah identitas tertentu.

Ok saya ambil contoh dari identitas saya. Saya seorang Kristen dan saya pernah ditanya oleh seseorang, apa sikap saya terhadap konflik Israel-Palestina. Saya tegaskan kepada dia, saya tidak memihak siapapun, bagi saya nyawa seorang Palestina sama berharganya dengan nyawa seorang Israel (terlepas dari identitas orang tersebut). Jawaban itu sedikit mengejutkan dia, karena mindset dia, semua orang Kristen mendukung Israel. Kemudian saya jelaskan lagi ke dia, ada orang Kristen Palestina juga di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang menderita karena isolasi dari Israel. Dan tentu saja ada orang Israel yang menolak setiap tindakan kekerasan atas Palestina dan membantu rakyat Palestina (lihat status saya). Teman saya itu pun sedikit terbuka pikirannya karena penjelasan saya.

Generalisasi (negatif) sangat berbahaya. Saya pun dahulu punya mindset seperti itu. Saya kadangkala menjudge seseorang berdasarkan identitas yang ada pada orang tersebut (sebelum mengenal dia secara pribadi). Tapi saya menyadari bahwa menggeneralisasi secara negatif sebuah identitas adalah sebuah asumsi keji (mengutip istilah Harper Lee dalam karyanya To Kill a Mockingbird)

Inferiority Complex.Saya punya seorang senior yang sekarang menjadi dosen di sebuah Universitas di Inggris. Suatu saat sebuah kampus di Indonesia mengirimkan undangan ke Universitas tempat senior saya mengajar untuk mengirimkan dosen agar memberi kuliah tamu. Karena subject yang diminta sesuai dengan keahlian senior saya, maka undangan tersebut dibalas dengan ditunjuknya senior saya sebagai visiting lecture di kampus tersebut. Kemudian pihak kampus yang mengundang tersebut menolak senior saya yang di utus oleh almameternya, mereka meminta penggantinya harus orang Inggris. Lalu pihak Universitas di Inggris itu mengirimkan seorang pengganti yang berwarganegara Inggris yang ternyata anak didik/asisten dari senior saya. Kata senior saya kepada saya ‘Saya bingung antara harus tertawa atau sedih melihat hal itu’

Inferiority Complex menurut Wikipedia adalah sebuah perasaan inferior terhadap pihak lain. Menurut saya pihak kampus di Indonesia didalam cerita diatas menderita Inferiority Complex. Saya pun dahulu menderita ‘penyakit’ ini. Dulu saya merasa kemampuan orang Indonesia kalah jauh dibanding negara2 maju seperti Jepang, AS, Jerman dll. Ternyata saya salah.

Salah seorang dosen saya bercerita, pada dekade 60an dan 70an mobil2 Jepang dianggap mobil kelas kedua di Indonesia. Dibandingkan mobil2 Eropa dan AS, kualitas mobil Jepang saat itu lebih buruk, namun saat ini bisa dilihat bagaimana Jepang bisa menghadirkan mobil berkualitas tinggi seperti Lexus dan Toyota bisa mengalahkan penjualan global dari The Big Three AS (GM, Ford dan Chrysler).

RRC pada dekade 50an dan 60an terkenal sebagai negeri Tirai Bambu karena ketertutupannya terhadap dunia luar. Pada waktu itu terjadi kelaparan luar biasa karena kegagalan program Great Leap Forward yang digagas oleh Mao Zedong. Pada saat itu Bangsa China lupa bahwa mereka pernah jadi Bangsa yang besar jauh sebelum peradaban Barat bangkit melalui Renaissance. Tapi sekarang Sang Naga itu telah bangkit dari tidur panjangnya dan akhir kuartal ketiga tahun ini akan menyalip Jepang untuk menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua didunia setelah AS.

Belajar dari Jepang dan China, saya percaya, sebuah bangsa tidak akan maju jika masih menderita Inferiority Complex. Saya optimis Indonesia akan menjadi negara yang maju. Ya, sekaranglah waktunya Indonesia!

Salam Hangat
JRS

Ide.Karya.Pengaruhnya

Salam Sejahtera!
Damai beserta anda!

Karena pengaruh Piala Dunia saya jadi tertarik dengan sosok Nelson Mandela. Ya, menurut saya pemenang Piala Dunia sejatinya bukanlah Spanyol atau Iniesta dengan gol tunggalnya (walaupun saya kesal sekali kenapa dia yang sering diving di pertandingan itu malah menjadi penentu kemenangan) ataupun Paul si Gurita yang selalu benar menebak hasil pertandingan. Nelson Mandela menjadi pemenang karena dia berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa sepakbola bisa menyatukan manusia, bahwa Afrika Selatan telah bangkit dari luka apartheid dan yang lebih luar biasa lagi adalah dia tidak memimpin orang2 kulit hitam untuk membalas dendam ke orang2 kulit putih atas kebijakan apartheid mereka. Saya tidak bisa membayangkan seandainya Nelson Mandela menghasut orang2 kulit hitam untuk membalas dendam kepada orang2 kulit putih, mungkin Afrika Selatan sekarang sudah menjadi Darfur kedua atau mungkin sama dengan konflik sektarian di Indonesia seperti Sampit, Sambas, Poso dan Ambon. Sebaliknya Nelson Mandela justru mengadakan rekonsiliasi di negerinya dengan menggunakan olahraga (Rugby seperti di film Invictus) dan Sepakbola (Piala Dunia sebulan yang lalu).

28 Agustus 1963 saat Nelson Mandela sedang di penjara di negerinya, di AS terjadi sebuah peristiwa besar di Lincoln Memorial, 200 ribu orang berkumpul mendengarkan pidato Marthin Luther King Jr yang berjudul “I Have a Dream”. Pidato legendaris itu (bersama peristiwa The Greensboro Four) membuat gelombang kebangkitan persamaan hak antara kulit hitam dan kulit putih. Hanya dua tahun berselang setelah “I Have a Dream” terjadi pembunuhan atas Malcolm X, seorang aktivis persamaan hak, keturunan Afrika-Amerika yang beragama Islam, dia dibunuh karena sama seperti Marthin Luther, dia sangat keras memperjuangkan penghapusan segregasi di AS. Belakangan 5 tahun setelah pidato terkenalnya itu, Marthin Luther King Jr tewas di tembak di Motel Lorraine. Pada tahun 1960 terbit sebuah novel karya Harper Lee yang mengguncang AS berjudul “To Kill a Mockingbird”. Novel yang meraih Pulitzer Prize pada tahun 1961 untuk kategori Fiction ini (dan meraih Academy Award pada tahun 1962 setelah difilmkan) bercerita tentang seorang pengacara kulit putih yang membela seorang kulit hitam yang dituduh telah memperkosa seorang wanita kulit putih. Terdapat kata2 yang memorial dari Finch, sang pengacara kulit putih tesebut yang kurang lebih isinya sebagai berikut :

“orang2 kulit putih yang bersaksi telah berbohong dengan keyakinan bahwa kesaksian mereka dipercaya hanya berdasarkan asumsi yang keji bahwa semua orang negro berbohong, bahwa semua orang negro pada dasarnya adalah makhluk yang tak bermoral”

Serupa dengan To Kill a Mockingbird, pada tahun 1852 lahirlah sebuah novel yang menggegerkan AS berjudul Uncle Tomโ€™s Cabin yang ditulis oleh Harriet Beecher Stowe. Novel tersebut berkisah tentang perbudakan di AS. Tokoh dalam novel (Uncle Tom) tersebut tetap setia kepada majikannya sekalipun dia akhirnya dijual sebagai budak karena majikannya tersebut terlilit hutang. Setelah dijual kepada majikannya yang baru, dia menolak untuk memukul budak lainnya, akibatnya dia dipukuli oleh majikannya sampai pingsan. Later belakang Stowe menulis novel tersebut adalah diloloskannya Fugitive Slave Act pada tahun 1850, isinya adalah melarang setiap warga yang menolong setiap budak yang melarikan diri. Sebelum novel tersebut terbit, mayoritas penduduk utara AS mengikuti anggapan penduduk selatan AS yang menganggap budak semata-mata barang yang dapat dimiliki, sejak novel itu lahir terjadi perubahan mindset pada mereka.

Dua tahun sebelum Uncle Tomโ€™s Cabin, seorang lulusan Harvard yang bernama Henry David Thoreau menulis sebuah esai politik yang berjudul Civil Disobedience. Dia menulis esai tersebut saat dipenjara karena menolak membayar pajak. Ia menulis, alasan dia tidak membayar pajak adalah karena hati nuraninya tidak mau mendukung uang dari pajak itu untuk mendanai undang-udang perbudakan dan mendanai perang Amerika-Meksiko. Menurut dia, ketika sebuah hukum yang tidak adil menuntut seseorang untuk melakukan ketidakadilan terhadap orang lain, ia menyimpulkan : “maka menurut saya, langgarlah undang-undang ituโ€. Karya Thoreau tersebut mengilhami Gandhi pada periode 1930an-1940an untuk menggunakan penolakan tanpa kekerasan (Ahimsa) dan periode 1950an-1960an oleh Marthin Luther King Jr seperti disebutkan sebelumnya di note ini.

Sumber :

A Long Walk to Freedom by Nelson Mandela
Autobiography of Marthin Luther King Jr
Autobiography of Malcolm X
To Kill a Mockingbird by Harper Lee
Uncle Tomโ€™s Cabin by Harriet Beecher Stowe
Civil Disobedience by Henry David Thoreau

I didn’t know what you did on my Facebook data privacy

‘They “trust me” … Dumb fu*ks.’

Facebook CEO Mark Zuckerberg, in an online chat when the company was still a small startup, on why thousands of Harvard students freely submitted their emails, pictures, addresses, and Social Security numbers to him.

(Source : Newsweek, May 24&31 2010)